Cara Mengetahui Kelayakan Berinvestasi pada Suatu Saham dengan Analisis Fundamental | Susah atau Gampang sih?

Berinvestasi pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi dan reksa dana ga boleh asal-asalan gengs karena kan kita mengharapkan yang terbaik dari investasi kita kan? Maka jangan main-main. Kita harus menganalisis dulu untuk melihat apakah kita tepat berinvestasi di sana dan dalam waktu yang tepat.

Khususnya saham, kita perlu analisis mendalam untuk mencari dari sekian banyaknya saham yang ada di BEI, manakah saham yang layak untuk diinvestasikan dalam jangka pendek, jangka menengah atau bahkan jangka panjang.

Secara umum terdapat 2 metode untuk menganalisis suatu saham yaitu Analisis Fundamental dan Analisis Teknikal. Keduanya punya perbedaan dan fungsinya masing-masing.

Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai Analisis Fundamental.

Analisis Fundamental

Secara definisi, analisis fundamental/fundamental analysis (FA) adalah suatu metode menganalisis saham secara mendasar hingga terperinci untuk tujuan investasi jangka panjang.

Gambar 1 Top-Down Analysis

FA ini berguna untuk menentukan saham mana yang cocok untuk diinvestasikan dalam jangka panjang karena tidak semua saham yang ada di BEI layak untuk investasi jangka panjang. Maka dari itu, kita harus menyortir saham-saham tersebut dengan FA ini.

 Untuk melakukan analisis fundamental biasanya bisa menggunakan 2 metode yaitu metode top-down dan metode bottom-up. Metode  top-down adalah metode analisis dari atas ke bawah yang artinya menganalisis dari hal umum ke hal khusus. Pada metode ini, langkah pertama adalah melakukan analisis ekonomi dunia, kemudian ekonomi negara, sektoral, industri dan terakhir analisis suatu perusahaan. Sedangkan metode bottom-up adalah kebalikannya. Kali ini akan dibahas tentang analisis fundamental dengan metode top-down.


Analisis Ekonomi Global (Makroekonomi)

Hal pertama dalam analisis fundamental dengan metode top-down adalah menganalisis ekonomi dunia secara menyeluruh atau analisis makroekonomi. Analisis ini melihat bagaimana ekonomi dunia saat ini dan pengaruhnya terhadap ekonomi suatu negara dalam konteks ini, Indonesia.

Saat ini kita sedang mengalami wabah COVID-19 yang awal kemunculannya langsung meruntuhkan ekonomi dunia. Wabah ini juga melahirkan masalah-masalah lain seperti masalah rantai pasok, kematian banyak jiwa, kesenjangan sosial dan lain sebagainya. Selain itu, gejolak ekonomi juga bisa berasal dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Misalnya terjadinya kenaikan suku bank sentral Amerika Serikat.

Tahun 2022 akan menjadi periode yang penuh potensi sekaligus tantangan tersendiri bagi ekonomi dunia. Potensinya adalah mulai bangkitnya ekonomi negara-negara karena sudah jenuh dalam dua tahun terakhir selama pandemi berlangsung. Tantangannya adalah munculnya varian virus baru yaitu Omicron yang dikhawatirkan akan menjadi penghambat dalam fase perbaikan ekonomi tersebut. Meskipun demikian, faktanya walaupun Omicron lebih menular tetapi tidak separah varian Delta. Hal ini justru mendorong kenaikan pasar keuangan global.


Analisis Ekonomi Lokal (Mikroekonomi)

Setelah mengetahui seperti apa kondisi ekonomi dunia, kita bisa masuk ke tahapan selanjutnya yaitu analisis ekonomi negara (mikroekonomi). Analisis ini biasanya menggunakan variabel-variabel seperti Produk Domestik Bruto (PDB/GDP), Inflasi, Suku Bunga Bank dan Nilai Tukar (kurs).

1.      Produk Domestik Bruto (PDB)

Gambar 2 PDB Per Kapita ASEAN 2020

Sumber: Databoks 2021


Berdasarkan data dari worldbank yang dilansir melalui databoks.katadata.co.id, PDB per kapita Indonesia pada 2020 menduduki posisi kelima di ASEAN sebesar USD3.869, jauh di bawah Singapura sebesar USD59.797.

Gambar 3 PDB Total G20 2020

Sumber: Databoks 2021

Sedangkan untuk keanggotaan G20, Indonesia menduduki posisi 16 dengan PDB total sebesar USD1,05 Triliun di atas Turki, Argentina, Arab Saudi dan Afrika Selatan.

Berdasarkan kedua data di atas bisa disimpulkan bahwa ekonomi Indonesia pada 2020 menunjukkan hasil yang positif. Lantas bagaimana kinerjanya pada 2021 dan prediksi 2022?

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, perekonomian Indonesia pada kuartal III 2021 tumbuh sebesar 1,55% dibanding kuartal II 2021 (QoQ) dan tumbuh sebesar 3,51% pada kuartal III 2021 terhadap kuartal III 2020 (YoY). Fakta ini menunjukkan bahwa kini ekonomi Indonesia telah memasuki babak baru dalam hal pemulihan ekonomi. Gambar di bawah akan memperjelas hal tersebut.

Gambar 4 PDB Lapangan Usaha Indonesia Triwulan III 2021

Sumber: BPS 2021

PDB Indonesia pada triwulan/kuartal III 2021 mengalami variasi pada setiap sektornya. Peningkatan dari kuartal II 2021 terjadi pada industri pengolahan, industri perdagangan reparasi mobil & motor, industri konstruksi, industri transportasi & perdagangan, industri penyediaan akomodasi & makan minum, industri jasa kesehatan & kegiatan sosial dan industri lainnya. Peningkatan terbesar ditopang oleh sektor industri transportasi & perdagangan sebesar 24,28%.

2.      Inflasi

Inflasi adalah suatu kondisi kecenderungan peningkatan harga barang/jasa secara terus menerus. Inflasi bisa berasal dari dalam negeri (domestik) seperti gagal panen, cuaca buruk dan bencana alam; dan dari luar negeri (imported) seperti meningkatnya harga produk-produk luar negeri.

Gambar 5 Inflasi Indonesia 2019-2021

Sumber: BPS 2021

Bagaimana dampaknya terhadap saham? Analoginya adalah ketika harga barang/jasa naik maka daya beli masyarakat akan menurun sehingga akan menurunkan pendapatan perusahaan. Hal ini akan membuat perusahaan kesulitan untuk menjalankan bisnisnya seperti biaya operasional untuk membeli bahan baku. Lambat laun perusahaan akan merugi sehingga akan menurunkan minat banyak investor dan hasil akhir adalah menurunnya harga saham perusahaan tersebut.

Inflasi yang terjadi selama tahun 2021 masih berada di level 1-2% yang berarti masih termasuk kategori inflasi ringan sehingga tidak terlalu berisiko dan aman.

3.      Suku Bunga Bank

Tabel 1 7 Days Repo Rate 2021

Sumber: Bank Indonesia 2021

Suku bunga bank adalah imbalan jasa yang diberikan bank kepada para nasabahnya. Suku bunga acuan di Indonesia menggunakan BI 7 Days Reserve Repo Rate yang dikeluarkan oleh bank sentral yaitu Bank Indonesia.

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) menyatakan bahwa BI rate konstan di level 3,5% hingga akhir tahun 2021. Hal ini dikarenakan tingkat inflasi yang masih rendah. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas kurs, sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana dampaknya terhadap saham?

Suku bunga semakin rendah/konstan akan memberikan sinyal positif sehingga masyarakat cenderung berinvestasi saham dari pada menabung deposito di bank dengan bunga rendah.

4.      Nilai Tukar (Kurs)

Gambar 6 Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar

Sumber: Tradingview.com

Selama 2021 kurs Rupiah terhadap USD mengalami fluktuasi harga. Nilai terkuat pada periode 16 Februari dengan nilai Rp13872 dan terendah pada 13 April sebesar Rp14645. Kemudian Rupiah kembali menguat hingga 20 Oktober sebelum melemah kembali hingga tulisan ini dibuat yang berada pada level Rp14350.

Dampak kurs terhadap saham adalah ketika kurs IDR to USD menguat maka memberikan sinyal positif bagi perekonomian yang mengakibatkan penurunan biaya impor bahan baku dari negara lain, menurunkan suku bunga sehingga menarik minat investor untuk berinvestasi di pasar modal.

5.      Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Gambar 7 IHSG 2021

Sumber: Bursa Efek Indonesia 2021

IHSG merupakan indeks seluruh saham Indonesia yang bisa dijadikan alat ukur kondisi ekonomi Indonesia. Singkatnya jika IHSG meningkat maka bisa dikatakan ekonomi Indonesia sedang membaik, demikian sebaliknya.


Analisis Sektoral

Setelah mengetahui kondisi ekonomi negara, kita masuk ke analisis sektoral. Analisis ini akan membahas seperti apa dan bagaimana kondisi tiap sektor industri yang ada di Indonesia. Jika dalam saham, maka akan dilihat bagaimana kondisi tiap sektor industri emiten-emiten yang ada di BEI.

Tabel 2 Kinerja Sektoral BEI Kuartal III 2021

Sumber: Bursa Efek Indonesia (diolah, 2021)

BEI memiliki klasifikasi tersendiri untuk sektor industri antara lain IDXBASIC, IDXCYCLIC, IDXNONCYC, IDXENERGY, IDXFINANCE, IDXHEALTH, IDXINDUST, IDXINFRA, IDXPROPERT, IDXTECHNO dan IDXTRANS.

Berdasarkan data di atas, indeks sektor transportasi & logistik (IDXTRANS) merupakan sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi sebelum November 2021 untuk periode 6 bulan, 3 bulan, 1 bulan dan year to date. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri transportasi & logistik memiliki potensi dan kecenderungan ‘sukses’ untuk tahun depan.


Analisis Industri

Tabel 3 Perbandingan Antar Emiten Sektor Transportasi & Logistik

Sumber: Laporan Keuangan Kuartal III 2021 Tiap Emiten (diolah, 2021)

Setelah didapatkan bahwa sektor transportasi & logistik adalah yang terbaik di antara sektor industri lainnya. Maka selanjutnya kita bedah emiten-emiten yang berada dalam sektor tersebut.

Pada sektor transportasi & logistik terdapat 28 emiten (10 emiten papan utama, 17 emiten papan pengembangan dan 1 emiten papan akselerasi). Hanya 16 dari 28 emiten yang mengalami keuntungan yang ditandai dengan net profit positif. Sedangkan 12 emiten lainnya mengalami kerugian.

Dengan menggunakan analisis rasio keuangan sederhana sebagai pembanding antar emiten seperti net profit, EPS, PER, PBVR, ROE, ROA dan DER, didapatkan hasil bahwa TMAS menjadi unggulan dari para kompetitornya, sehingga menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.


Analisis Perusahaan

Setelah didapatkan emiten yang memiliki kinerja terbaik di sektornya maka langkah berikutnya adalah ‘membedah’ emiten tersebut secara rinci dan mendalam. Banyak komponen yang digunakan untuk menganalisis suatu emiten seperti tata kelola perusahaan, prospek bisnis, kinerja keuangan dan lain sebagainya. Untuk permulaan, di sini hanya akan dibahas tentang kinerja keuangan emiten yang bersangkutan.

Terdapat 5 rasio untuk menganalisis kinerja keuangan emiten antara lain rasio profitabilitas, rasio aktivitas, rasio likuiditas, rasio solvabilitas dan valuasi harga saham.

Berikut disajikan rangkuman rasio-rasio keuangan PT TMAS Tbk.

Tabel 4 Rasio Likuditas TMAS Q3 2021

Sumber: Laporan Keuangan TMAS Q3 2021 (diolah, 2021)

Rasio likuiditas mengukur kemampuan emiten untuk membayar kewajiban (utang) jangka pendek.

Semua variabel TMAS tahun 2021 pada rasio likuiditas menghasilkan kinerja yang lebih baik dibanding 2020.

Tabel 5 Rasio Aktivitas TMAS Q3 2021

Sumber: Laporan Keuangan TMAS Q3 2021 (diolah, 2021)

Rasio aktivitas mengukur seberapa optimal emiten dalam menggunakan asetnya.

Kinerja TMAS pada 2021 menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding 2020.

Tabel 6 Rasio Profitabilitas TMAS Q3 2021

Sumber: Laporan Keuangan TMAS Q3 2021 (diolah, 2021)

Rasio profitabilitas mengukur kemampuan emiten untuk menghasilkan laba.

Kinerja TMAS pada 2021 menunjukkan peningkatan yang signifikan dibanding 2020.

Tabel 7 Rasio Solvabilitas TMAS Q3 2021

Sumber: Laporan Keuangan TMAS Q3 2021 (diolah, 2021)

Rasio solvabilitas mengukur kemampuan emiten untuk melunasi kewajiban (utang) jangka panjang.

Hanya variabel Debt to Asset Ratio (DAR) dan Financial Leverage (FL) yang menunjukkan hasil kurang baik dibanding 2020.

Tabel 8 Valuasi TMAS Q3 2021

Sumber: Laporan Keuangan TMAS Q3 2021 (diolah, 2021)

Valuasi digunakan untuk membandingkan nilai relatif saham, apakah saham tersebut tergolong mahal atau murah serta melihat potensi keuntungan dari saham tersebut.

Hanya variabel Price to Book Value (PBV) yang menunjukkan hasil kurang baik yang artinya saham TMAS pada 2021 sedikit lebih mahal dibanding harga ketika 2020. Tetapi untuk variabel lainnya menunjukkan hasil yang jauh lebih baik.


Kesimpulannya berinvestasi saham itu perlu analisis mendalam agar kita tidak salah dalam menaruh uang. Analisis dalam saham terbagi menjadi dua yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental mengedepankan tujuan berinvestasi untuk jangka panjang yang dimulai dengan menganalisis dari segi ekonomi global, ekonomi negara, sektoral, industri dan terakhir perusahaan.

Gimana gengs, gampangkan analisis fundamental?

#yuknabungsaham






































Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Berinvestasi Saham Bagi Para Pemula | Berinvestasi Saham Tidak Serumit yang Kalian Pikirkan Loh!